Resume Materi 1 Matrikulasi IIP Batch 2 Bogor

Resume Diskusi Grup Matrikulasi Asyik Bogor 1
17 Oktober 2016
Materi : Adab Menuntut Ilmu

Sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya, seorang ibu sangat perlu memahami betapa dirinya wajib mempelajari begitu banyak ilmu untuk mendukungnya menjalani tugas tersebut. Namun, sebelum mulai mempelajari suatu ilmu, yang perlu dipahami terlebih dahulu adalah adabnya. Karena ilmu adalah prasyarat bagi timbulnya suatu amal, maka adab harus didahulukan daripada ilmu. Hal ini begitu penting dipahami karena anak adalah plagiator ulung, jika sang ibu bisa menularkan/mencontohkan adab yang baik, maka anak tidak akan pernah gagal meng-copy.
Yang pertama kali perlu diteguhkan sebelum mempelajari suatu ilmu, adalah niat. Niat untuk menebarkan manfaat, dan niat untuk mendapat keberkahan dari ilmu yang dituntut. Ketika niat sudah diluruskan, maka sikap rendah hati, ikhlas, dan bersungguh-sungguh akan menjadi modal utama bagi kemudahan dalam belajar. Keikhlasan dan kerendahanhati akan membuat kita jadi siap menampung ilmu lebih banyak dari yang kita ketahui sebelumnya. Coba bayangkan ada 2 buah gelas. Di dalam gelas itu ada sebuah koin. Satu gelas berisi air bening, satunya lagi berisi kopi. Jika kita berikan cahaya senter, kira-kira koin di gelas mana yang akan terlihat dengan jelas?
Diri kita diibaratkan sebuah gelas, koin adalah hatinya. Dan cahaya senter adalah ilmu. Apakah diri kita ingin memperoleh cahaya Illahi berupa ilmu tersebut? Maka dari awal kita harus menjauhkan diri dari segala bentuk penyakit hati. Ikhlas dan bersikap tawadhu agar ilmu yang diberikan dapat kita terima dengan maksimal. Selama kesombongan masih menyelimuti hati, maka ilmu akan terhalang masuk. Karena sejatinya ilmu bagaikan cahaya yang dimasukkan ke dalam hati.
Lalu bagaimana cara untuk menjadi ikhlas? Ikhlas adalah ilmu yang sulit untuk dipraktekkan, karena yang dapat mengukur keikhlasan diri kita, ya kita sendiri. Namun, ada beberapa cara yang mungkin bisa membantu kita dalam menumbuhkan rasa ikhlas antara lain :
1. Senantiasa memohon keikhlasan pada Allah.
2. Bergaul dengan orang-orang ikhlas.
3. Selalu membersihkan hati dan menjauhkan diri dari yang dapat mengotori niat.
4. Memperbanyak ketaatan.
Bagaimana menuntut ilmu tanpa guru?
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Kitabul ‘Ilmi menjelaskan bahwa seseorang penuntut ilmu hendaknya memiliki guru dan tidak membiarkan dirinya belajar sendiri tanpa bimbingan. Seseorang yang memiliki guru akan memperoleh beberapa manfaat, diantaranya:
Menemukan metode yang mudah dalam belajar. Dia tidak perlu bersusah payah memahami sebuah kitab untuk melihat apa pendapat yang paling kuat dan apa sebabnya, demikian pula apa pendapat-pendapat yang lemah dan alasannya. Ketika seseorang memiliki guru, maka guru itu yang akan mengajarinya dengan metode yang lebih mudah. Guru itu akan menjelaskan perbedaan pendapat di kalangan ahli ilmu, manakah pendapat yang terkuat beserta dalil-dalilnya. Tidak diragukan lagi, hal ini sangat bermanfaat bagi penuntut ilmu.Lebih cepat paham.
Seorang penuntut ilmu jika membaca di hadapan gurunya akan lebih cepat mengerti dibandingkan jika mempelajari sendiri. Jika dia hanya membaca seorang diri, boleh jadi ia akan menemukan istilah-istilah baru yang sulit untuk dipahami dan membutuhkan usaha serta pengulangan yang memakan waktu dan tenaga. Bahkan bisa jadi dia jatuh dalam kesalahan saat memahaminya. Adanya hubungan yang terjalin antara penuntut ilmu dan para ulama. Maka dari itu membaca sebuah buku di hadapan para ulama lebih bermanfat dan lebih utama daripada membacanya sendiri. (Sumber: http://muslim.or.id/27667-tepatkah-belajar-agama-tanpa-guru.html).
Karena itulah, kita harus benar-benar memiilih guru dengan baik. Perhatikan latar belakang keilmuannya, akhlaknya, dan biografinya. Kualitas seorang guru, akan sangat menentukan kualitas ilmu yang kita dapat.
Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan bahwa kita bisa belajar tanpa guru, mengingat saat ini, teknologi menjadi alat yang sangat memudahkan kita mencari berbagai ilmu. Namun, yang perlu diingat darimanapun kita belajar dan mendapatkan sebuah ilmu, poin-poin penting yang harus diperhatikan adalah:
- Sumber ilmunya dapat dipertanggungawabkan
- Bisa dibuktikan kebenarannya/dinyatakan oleh ahlinya
- Jika menyangkut syariat, maka ada dalil dari Al-quran / Al-hadits yang menguatkan.
Jika belajar dengan metode ini, secara pribadi kita harus benar-benar selektif memilih sumber, mengerahkan daya kritis, dan selalu bersikap skeptis (tidak mudah percaya).
Bagaimana jika kita berguru pada orang yang berlainan aqidah?
Dalam buku Dr. Raehanul Bahrain dengan judul:  disebutkan bahwa tidaklah masalah mengambil manfaat /berguru dari orang yang tidak seakidah  selama hal tersebut bukanlah sesuatu yang diharamkan  syariat islam, bahkan apabila hal tersebut mengandung kemaslahatan orang banyak maka sudah selayaknya digunakan.
Hukum asal usul dunia adalah halal dan mubah.karenanya allah telah menyediakan dunia dan isinha halal dan boleh digunakan untuk manusia dan sebuah bentuk kasih sayang dari Allah. Namun untuk ilmu aqidah /tauhid, fiqih, sejarah, tafsir dan apapun yang berkaitan dengan agama, tentu mutlak harus dari guru yang seaqidah.
Apakah yang dimaksud dengan Ilmu yang bermanfaat sebagai bekal akhirat? Apakah ilmu dari guru yang berlainan aqidah bisa menjadi bekal kita di akhirat?
Ilmu bermanfaat adalah ilmu yang ketika diamalkan maka bertambah kebaikan.  Hal-hal terkait aqidah,  prinsip hidup, dan aturan hidup tentu harus mengacu pd Al quran dan Assunah. Ustadz siapapun itu atau bahkan jika keluar dar mulut anak kecil sekalipun jika sumberny dari Alquran dan hadits dengan dalil yang kuat maka kita tidak boleh menolak kebaikan dan ilmu tersebut.
Beda halnya ketika menyangkut di luar aqidah,  prinsip hidup dan aturan hidup maka siapapun itu baik muslim ataupun kafir boleh diambil dan diamalkan ilmunya selama tidak bertentangan dengan Alquran dan Assunah. Jika bertentangan, meski itu keluar dari ayah atau ibu kita yang muslim, maka tidak boleh kita mengambil "ilmu" ataupun mengamalkannya.

*Adab bagaikan tanah dan ilmu seperti pohon yg tumbuh di atasnya. Ketika tanah tidak solid maka pohon yang tumbuhpun kemungkinan bukan pohon yang bisa memberi banyak manfaat. Jazakillah untuk fasilitator dan teman-teman yang memberi banyak inspirasi. InsyaAllah materi ini jadi pondasi yang kuat, mengukuhkan hati, mengikhlaskan diri agar Allah ridho dengan setiap ilmu yg kita pelajari, sehingga Allah beri kelapangan ilmu dan manfaat. Allahu Akbar*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

resume materi 2

tantangan ke 3 melatih kemandirian Bunda Sayang

Resume materi 3